Senin, 13 Juni 2016

Mendidik Anak untuk Berpuasa





Ramadhan bulannya puasa adalah salah satu ibadah wajib yang harus dilakukan oleh seluruh umat muslim. Para orangtua pun sejak dahulu telah menanamkan pentingnya puasa kepada anak-anak mereka. Para ulama mengatakan, puasa artinya menahan diri dari hal-hal yang membatalkan, seperti makan, minum, serta hawa nafsu dengan niat beribadah kepada Allah SWT. Semua itu dimulai dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari.

Dilihat dari pengertian itu saja sudah dapat dilihat betapa bermanfaatnya menjalankan puasa. Puasa bisa menjaga kesehatan, selain juga belajar mengelola emosi. Bayangkan, jika si kecil mampu menjalankan puasa selama sebulan penuh, dia akan menjadi anak yang sehat dan dapat menjaga emosinya. Bukankah ini yang diinginkan oleh semua orangtua?

Mengajak anak berpuasa? Sayangnya, mengajak anak berpuasa sering kali terasa sulit, khususnya bagi orangtua yang anak-anaknya baru saja belajar berpuasa. Ada saja hal yang membuat anak ingin segera berbuka, mulai dari makanan atau minuman yang tak sengaja dilihatnya di meja atau televisi hingga lelah karena bermain.

Menghadapi permasalahan itu, Anda bisa mencoba beberapa cara berikut yang dikutip dari buku Diari Ramadhan terbitan Qibla (imprint dari penerbit Bhuana Ilmu Populer) berikut ini:




1. Pemahaman

Memberikan pemahaman kepada anak tentang keistimewaan bulan Ramadhan adalah hal utama. Jika anak tahu mengenai keistimewaan ini, mereka akan mencintai bulan Ramadhan dan akan lebih mudah untuk diajak berpuasa.

Salah satu cara sederhana dan mudah untuk mengenalkan keistimewaan ini misalnya dengan mencuci bersama-sama perlengkapan ibadah serta mengaji bersama.

2. Pahala

Memberikan penjelasan kewajiban umat muslim untuk menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Tak lain, karena anak pasti tidak menyukai gagasan bahwa dia harus kelaparan dan kehausan selama berjam-jam lamanya.

Tapi, jelaskan juga tentang pahala yang akan didapatnya jika berpuasa. Dengan memberi pengertian tentang pentingnya berpuasa dan pahala yang didapat, anak pun akan memahami dan dengan ikhlas menjalankan puasa.

3. Sejarah

Ada baiknya menceritakan juga kepada anak tentang asal-usul puasa. Dengan mengetahui sejarah puasa, anak akan lebih tertarik untuk mencoba menjalankan puasa.

4. Tata cara

Jangan lupa, ajarkan kepada anak tentang tata cara dalam berpuasa. Ceritakan mulai dari niat, syarat berpuasa, hingga hal-hal yang dapat membatalkan puasa agar mereka tahu hal-hal dasar dalam berpuasa.

Tips kuat berpuasa. Selain bingung dengan cara mengajak anak untuk mau berpuasa, orangtua juga sering dihadapkan dengan masalah agar anak kuat berpuasa sehari penuh. Apalagi, puasa Ramadhan kali ini bersamaan dengan liburan sekolah sehingga satu hari terasa berjalan sangat lama bagi anak-anak.

Nah, berikut beberapa cara yang bisa Anda terapkan untuk membuat anak-anak Anda kuat berpuasa sehari penuh. Cara-cara ini juga dikutip dari buku Diari Ramadhan.

1. Mengaji

Ajaklah anak Anda untuk mengaji atau membaca Al-Qur’an bersama-sama. Selain menyibukkan dan mengalihkan perhatian anak, cara ini juga dapat sekaligus memperdalam ilmu agamanya.

2. Silaturahim

Cobalah untuk mengajak anak Anda bersilaturahmi ke kerabat dekat. Lebih baik lagi jika mereka memiliki anak yang seusia dengan anak Anda.

3. Kisah Islami

Membacakan kisah-kisah Islami yang penuh hikmah. Dengan cara ini, selain untuk mengisi waktu hingga tibanya saat berbuka, juga bisa sekaligus menanamkan tentang akhlak dan akidah kepada anak.

4. Bermain

Waku jelang sore yang merupakan saat-saat "kritis" bagi anak-anak. Ajak mereka untuk jalan-jalan atau bersepeda santai berkeliling daerah sekitar rumah. Dengan aktivitas ini, anak akan melupakan rasa lapar dan hausnya serta membuat badan mereka bugar hingga waktu berbuka. 


                                                             Selamat berpuasa!

Sumber Kompas.com

Senin, 06 Juni 2016

Pentignya Bermain Aktif 60 Menit Bagi Anak





Hidup di era modern dengan teknologi canggih seperti sekarang ini memang menyenangkan. Kehidupan kita pun menjadi lebih mudah. Namun, tak sedikit orang yang menjadi malas bergerak karena terlalu asyik berinteraksi dengan gadget dan barang elektronik. Tak hanya orang dewasa, anak-anak pun demikian.


Data yang dilansir healthykids.nsw.gov.au menunjukkan 89 persen anak berusia balita menghabiskan waktu dua jam setiap hari untuk bermain gadget, komputer, menonton televisi dan DVD. Sambil melakukan aktivitas tersebut, anak mengudap makanan manis, asin, dan berlemak.


Selain itu, Active Living Research memaparkan hasil penelitian bahwa anak-anak yang menonton televisi lebih dari tiga jam setiap hari memiliki risiko 65 persen menderita obesitas dibandingkan anak yang menonton televisi di bawah satu jam per hari.


Gaya hidup seperti itu akan berdampak buruk bagi kesehatan, terutama bagi anak yang masih dalam masa pertumbuhan.


Oleh karena itu, biasakan mengajak anak Anda bermain setidaknya 30 sampai 60 menit setiap hari. Bukan main gadget, tapi bermain di luar ruangan. Pilih permainan yang membuat anak aktif bergerak. Misalnya, lompat tali, sepak bola, dan kejar-kejaran. Atau jajal permainan tradisional seperti petak umpet, gobak sodor, petak jongkok, taplak gunung, dan permainan tradisional lainnya.


Jika tubuh aktif bergerak, maka dapat mengurangi risiko terserang penyakit jantung dan obesitas. Selain itu, dalam kegiatan permainan aktif tadi terdapat manfaat positif lainnya, yaitu anak belajar mengeksplorasi lingkungan.


Eksplorasi ini juga bisa dilakukan melalui media gadget dan televisi, namun tentunya interaksi di depan perangkat elektronik tersebut tak lebih dari satu jam. Melalui gadget dan televisi, anak bisa mengetahui beragam hal untuk menambah pengetahuan. Misalnya, bagaimana rupa hewan, dan betapa indahnya pemandangan gunung serta laut.


Dijelaskan Susan H. Landry, PhD, seorang psikolog perkembangan anak sekaligus pendiri Children’s Learning Institute di University of Texas Health Science Center Amerika Serikat, kehadiran orang tua saat mendampingi si kecil beraktivitas, memiliki dampak positif bagi perkembangan dan kemampuannya dalam bereksplorasi.


Poin utamanya ialah kebersamaan dengan orang tua merupakan hal penting yang tidak boleh dilewatkan. Sepanjang bersama orang tua, kegiatan eksplorasi baik melalui media elektronik maupun secara langsung yang dilakukan anak akan terasa lebih menyenangkan.


Eksplorasi merupakan langkah pertama dalam mempelajari tentang benda dan belajar bagaimana memecahkan masalah


Dalam kegiatan eksplorasi terdapat proses pengenalan dan interaksi dengan hal-hal baru. Mulai dari keterampilan sensorik motorik, keterampilan dalam berkomunikasi, sosial emosional, kemandirian, kognitif, dan kreativitas anak. Untuk menunjang kegiatan eksplorasi, anak harus sehat dan kuat. Proses eksplorasi akan berjalan optimal jika didukung dengan nutrisi yang baik.


Dengan daya tahan tubuh yang baik, sang buah hati dapat bebas bermain dan mendapatkan pengalaman berharga bersama Anda. Jadi tunggu apa lagi? Mari luangkan waktu untuk mengajak anak Anda bermain.


Rabu, 01 Juni 2016

Dunia Maya Membuat Anak Lupa Etika





Dunia teknologi berkembang cukup pesat saat ini, Semua kalangan sekarang sudah menggunakan kemudahan dari teknologi ini. Komunikasi pun semakin dimudahkan dengan teknologi jarak bukan merupakan masalah lagi saat ini. Kapan dan dimana saja kita bisa berkomunikasi dengan orang terdekat dan rekan kerja atau bisnis kita.

Marshall McLuhan (1911-1980), pakar ilmu komunikasi, pada 1960-an pernah mengatakan bahwa kelak dunia akan seperti global village. Dunia dianalogikan akan menjadi sebuah desa yang besar, tetapi akan mudah saling berinteraksi dan berkomunikasi. Kini, konsep McLuhan tersebut telah menjadi kenyataan. Teknologi komunikasi yang ada sekarang telah menggenapi dunia seolah menjadi kecil, ciut, spontan, benar-benar layaknya sebuah desa.

Dunia tak selebar daun kelor. Mungkin ini adalah ungkapan lama yang saat ini benar-benar terjadi dikehidupan manusia saat ini. Semua kalangan baik tua, maupun muda sudah menggunakan dunia maya melalui gadget mereka masing-masing. Orang di kota dan di desa juga sudah merasakan yang namanya internet semuanya semakin mudah untuk dilakukan dan disebarluaskan kepada khalayak luas.

Pemakaian teknologi sebagai alat komunikasi sekarang berkembang secara massive. Kita tentu semakin sering membaca fenomena orang bisa "bicara sesuka hatinya" di dunia maya. Orang bisa bertindak semaunya dengan komentar kasar, caci maki, menyudutkan, bahkan menyinggung SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan).

Kemudahan dalam berkomunikasi itulah penyebab spontanitas yang keluar begitu saja tanpa pikir panjang. Dunia maya memang telah menjelma menjadi sebuah "dunia baru" yang sangat bebas, tanpa sekat, nyaris tanpa kontrol, dan serba permisif.

Lalu bagaimana hubungan secara langsung/dampak yang terasa langsung bagi anak-anak akibat kemajuan teknologi dan mudahnya menggapai informasi saat ini? 

Perilaku kurang sopan di dunia maya ini tentu menarik perhatian kita semua baik orangtua bahkan anak-anak. Apakah kebebasan ini bisa menggeser etika? Era internet telah membawa dampak besar dalam tatanan kehidupan bermasyarakat dewasa ini. Kita seperti terlena dengan semua kemudahan yang diberikan sehingga kita kehilangan kontrol dan seolah-olah bertindak sebagai hakim dan membenarkan semua tindakan yang sudah kita lakukan ataupun kita ucapkan.

Dalam buku Etiket dan Netiket karya Marulina Pane, dijelaskan makna netiket dan etiket sebagai bentuk sopan santun dalam pergaulan dan pekerjaan. Memang, zaman kini, netiket dan etiket sebaiknya dipelajari kembali, 

Ada baiknya kita, terutama yang "aktif" di dunia maya, mempelajari kembali garis-garis netiket dan etiket yang diharapkan dapat membentuk kembali sikap saling menghargai sesama pengguna dunia maya lainnya. Tidak mudah menyakiti, tidak menyinggung perasaan, tidak meremehkan, tidak merendahkan, tidak membangkitkan kemarahan orang lain, serta tidak mengungkit kekurangan orang lain dengan sengaja.

Saat ini anak kita sudah mengenal dunia maya dengan segala kemudahannya. Anak kita juga sangat gampang bertindak ataupun berkata kasar di media sosial. Mereka seolah-olah kehilangan identitas diri mereka  Mereka menjadi pribadi yang berbeda dengan kenyataannya. 




Game Online. Dengan adanya permainan secara online (game online) kini permainan-permainan tradisional semakin tersingkirkan . jika dilihat dari segi positifnya permainan tradisional memiliki nilai edukasi yang tingi,nilai kebersamaan dan empati terhadap teman, sebagai media untuk berkumpul dan bergaul untuk mengembangkan diri. Hal ini terbukti bahwa disetiap rental playstation dan warnet selalu dipadati oleh anak-anak usia SD sampai Remaja, kebanyakan dari mereka bermain game  

Kini nilai-nilai kebersamaan itu kian lama kian luntur akibat semakin banyaknya permainan-permainan modern yang muncul. Dengan munculnya teknologi yang dapat menyingkirkan permainan-permainan tradisional mengakibatkan generasi sekarang ini memiliki kecenderungan yang negatif, mereka tidak terbiasa dengan ide-ide permainan  yang kreatif seperti yang ada di dalam permainan tradisional

Mari bersama-sama kita selamatkan generasi penerus kita dari keruntuhan moral dan etika akibat dari perkembangan teknologi dan dunia maya. Kita harus mengkontrol tumbuh kembang masing-masing buah hati kita. Kita harus mengembalikan etika, dan norma-norma kebaikan yang berlaku selama ini di tengah-tengah masyarakat kita. Agar kelak anak-anak kita tumbuh menjadi pribadi yang cerdas, siap dengan kemajuan teknologi serta memiliki etika moral yang baik dalam kehidupan mereka di masa yang akan datang. Salam Anak Indonesia Hebat.