Rabu, 30 Maret 2016

Cara Mengajarkan Anak Untuk Lebih Bertanggung-jawab




Mengajar tanggung jawab kepada anak-anak adalah salah satu pekerjaan yang kita miliki sebagai orang tua. Ini seperti menakutkan, tetapi hal ini sangat diperlukan. Banyak orang dewasa tidak mengerti akan makna dari tanggung jawab, bukan hanya untuk diri mereka sendiri tapi juga untuk orang lain. Kita harus sangat keras ketika mengajarkan tanggung jawab kepada anak kita. Anak-anak yang tumbuh menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab biasanya memiliki beberapa pedoman dalam hdiup mereka. Mereka telah diberi kesempatan untuk berkontribusi pada rumah tangga dalam beberapa bentuk, mereka juga diajarkan tentang uang dan diberikan kemandirian untuk belajar mengandalkan diri mereka sendiri.

Meskipun anak-anak harus diperbolehkan untuk menjadi anak-anak saat mereka tumbuh dewasa, mengajar mereka tanggung jawab dari usia muda adalah sama pentingnya. Salah satu cara untuk mengajar mereka ini adalah melalui tugas-tugas. Memiliki tanggung jawab di sekitar rumah, dan memberikan kontribusi untuk keluarga, dapat membantu mereka belajar bertanggung jawab. Tugas juga mengajarkan mereka tentang rasa hormat. Mereka belajar untuk menghormati apa yang orang tua mereka lakukan untuk mereka, mainan dan barang-barang yang diberikan kepada mereka dan menghormati kemampuan mereka sendiri untuk berkontribusi dengan cara yang berarti.

Salah satu kesulitan terbesar bagi orang dewasa saat ini adalah mengelola uang. Memberikan anak Anda uang saku adalah langkah pertama dalam mengajar mereka tentang bertanggung jawab secara finansial. Untuk mendapatkan uang saku mereka, anak-anak harus menyelesaikan tugas-tugas mereka seperti yang akan mereka temui setiap hari. Ajarkan mereka tentang menyimpan dan menghabiskan serta bertanggung jawab. Tapi kemudian mungkinkan mereka untuk membuat keputusan sendiri. Ini adalah di mana mereka dapat dengan aman melakukan kesalahan tentang uang dan belajar bagaimana menanganinya untuk keuntungan bagi diri mereka sendiri. Ini juga di mana anda dapat mengajarkan mereka tentang amal, sehingga sebagai orang dewasa mereka akan mengetahui tidak hanya bagaimana menjadi bertanggung jawab untuk dirinya sendiri, tetapi juga bagaimana untuk membantu orang lain.

Banyak orangtua modern menjaga anaknya layaknya membungkus anaknya menggunakan plastik. Tetapi anak memiliki beberapa ukuran kebebasan adalah di mana mereka belajar untuk mengandalkan diri mereka sendiri. Anak-anak belajar tanggung jawab dengan yang dilakukan untuk menghadapi konsekuensi dari tindakan mereka. Jangan mencoba untuk melindungi mereka. Biarkan mereka sepenuhnya jadi diri mereka sendiri. Belajar dari membuat kesalahan dan itu lebih baik. Jangan takut untuk membiarkan anak Anda menghabiskan waktu sendiri atau takut untuk membiarkan mereka membuat keputusan tentang waktu mereka, hobi dan teman-teman. Beri mereka kebebasan yang mereka butuhkan untuk tumbuh menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab yang tahu bagaimana mengurus diri sendiri.

Mengajar anak-anak untuk bertanggung jawab bukanlah hal yang mustahil. Meskipun ada banyak orang dewasa di dunia yang tidak tahu arti tanggung jawab. Hal ini tidak harus terjadi untuk anak-anak Anda. Ajarkan mereka untuk berkontribusi melalui tugas-tugas yang sesuai dengan usia mereka. Dan ajarkan mereka untuk lebih menghargai apa yang Anda lakukan untuk mereka. Beri mereka uang saku mingguan atau bulanan ketika mereka telah menyelesaikan tugas-tugas mereka dan memungkinkan mereka untuk menghabiskan itu sesuai dengan keinginan mereka. Mereka akan belajar mengatur keuangan yang akan terbawa hingga mereka tumbuh dewasa. Memberi mereka kebebasan untuk belajar dan menghibur diri mereka sendiri, membuat keputusan sendiri untuk hidup dengan konsekuensi dari keputusan tersebut. Beri mereka fondasi dasar dari tanggung jawab di masa kecil dan Anda telah mengajarkan mereka untuk menjadi orang dewasa yang dibutuhkan dunia. Salam Lima Jari. Salam Anak Indonesia Hebat.




Gagal bukan masalah




Semua orang tua pasti ingin melihat anak-anak mereka berhasil, oleh karena itu sangatlah penting untuk mengajarkan anak-anak kita bagaimana untuk gagal. Gagal dapat diungkapkan kembali sebagai mencoba lagi, jangan pernah malu untuk gagal, karena kegagalan adalah awal dari sebuah proses keberhasilan. Anak-anak yang tidak bisa mentolerir kegagalan rentan terhadap kecemasan dan dapat menyebabkan masalah yang lebih besar ketika mereka pasti gagal.

Ada begitu banyak tekanan pada anak kita saat ini. Menjadi yang terbaik sudah menjadi momok bagi anak kita dewasa ini.  padahal yang lebih penting adalah membiarkan anak-anak tahu bahwa gagal akan terjadi dan terkadang hal itu akan baik-baik saja. Bahkan, hal itu bermakna berani untuk mencoba sesuatu yang baru, mengetahui bahwa itu mungkin berhasil atau tidak.

Sayangnya kita melihat banyak anak-anak sekarang yang telah menerima begitu banyak bantuan dari orang tua mereka, baik itu dengan proyek-proyek sekolah atau hanya tugas dasar dalam hidup. Mereka menjadi bingung atas kesalahan paling kecil. Sangat penting untuk diingat bahwa kepercayaan diri diciptakan dengan menjadi lebih baik ketika melakukan sesuatu, terutama ketika membutuhkan usaha untuk mendapatkan baik. Pelajaran untuk anak dari proses ini adalah dapat menciptakan rasa percaya diri dan tidak mudah jatuh.

Inilah sebabnya mengapa mengajar anak untuk menjadi tangguh dan bangkit dari kegagalan sangatlah penting. Kemampuan untuk pulih dari kemunduran adalah salah satu kunci untuk hidup bahagia.

Menjadi tangguh tidak berarti berkembang dalam menghadapi kegagalan, itu adalah kemampuan untuk memilih diri dan menempatkan satu kaki di depan yang lain. Ini bukan sifat bawaan, itu kombinasi dari perilaku, pikiran, dan tindakan yang dapat dipelajari dan dikembangkan.

Berikut adalah beberapa tips untuk membantu anak-anak Anda mengembangkan ketahanan:


  • Ketika anda melihat bahwa anak anda sedang berjuang atau mengalami kesulitan, berempati dengan dia. Pastikan untuk tidak menyakiti perasaannya. Coba gunakan bahasa seperti "Aku tahu kamu benar-benar kecewa dan bahwa kita ingin dia melakukan yang lebih baik lagi.
  • Jelaskan kepada anak anda bahwa setiap orang gagal dan menawarkan cerita tentang saat ketika anda sendiri gagal. Anda dapat model untuk anak Anda bagaimana menangani frustrasi dan kekecewaan. Ingat, anak-anak selalu mengawasi dan mengambil isyarat dari orang tua.
  • Lihatlah kegagalan sebagai kesempatan untuk mengajarkan anak Anda pelajaran tentang ketahanan.
  • Bicara menggunakan keterampilan pemecahan masalah  dengan sebuah rencana untuk apa yang harus dilakukan ketika masalah datang.
  • Jika pada awalnya Anda tidak berhasil, coba lagi. Ingatkan anak Anda bahwa mereka dapat mencoba lagi dan menggunakan kegagalan ini sebagai pengalaman belajar.
Mungkin hal yang paling penting adalah untuk melangkah mundur dan membiarkan anak anda tersandung. Kita semua ingin melindungi anak-anak kita, tetapi penting untuk memungkinkan mereka untuk gagal daripada ikut turun tangan dan memperbaiki masalah. Kegagalan mengajarkan anak-anak keterampilan yang mereka butuhkan seperti ketahanan untuk menjadi orang dewasa yang sukses.Salam Lima Jari.Salam Anak Indonesia Hebat.

Sumber: www.pbs.org
Jamie M. Howard, PhD,  Child Mind Institute's Director of the Stress and Resilience Program; Clinical Psychologist, Anxiety and Mood Disorders Center. 



Hati Yang Ikhlas Adalah Sumber Kekayaan dan Kebahagian Yang Sesungguhnya


Terkadang kita gak tau apa yang udah kita lakukan berdampak atau tidak ke orang lain. Bahkan kita sendiri tidak merasakan perubahan apa pun. "Bahagia", adalah sebuah kata sederhana yang memiliki makna sangat dalam. Setiap orang di muka bumi ini memiliki defenisi kebahagian mereka masing-masing, ada yang bahagia jika punya banyak uang, ada yang bahagia jika bisa jalan-jalan keluar negeri, atau ada yang bahagia jika bisa membantu orang lain.

Video ini memberi kita inspirasi dari arti kata "Bahagia". Bagaimana seorang pemuda yang hidup pas-pasan masih mau berbagi dengan sesamanya, mau menolong bahkan disaat dia sendiri butuh pertolongan. Namun "Hatinya yang ikhlas, telah menjadi sumber kekayaan dan kebahagian yang sesungguhnya".

Di jaman yang modern seperti saat ini, sangat sulit menemukan orang yang memiliki hati yang ikhlas dan tulus dalam hal bekerja ataupun membantu orang lain. semua dilaksanakan karena ada imbalan ataupun ada tujuan yang ingin dicapai. salahkah itu?. tentu setiap orang memiliki sudut pandang yang berbeda-beda. Kita tidak bisa memaksakan kehendak karena setiap orang memiliki hak mereka masing-masing, namun kembali lagi "Hati yang ikhlas adalah sumber kekayaan dan kebahagian yang sesunggugnya". kerjakan dan laksanakanlah semua tugas dan rintangan hidup kita tak usahlah berkeluh kesah, apalagi menjatuhkan kawan. Bekerjalah dengan hati maka semua akan dipenuhi oleh Yang Maha Kuasa.

Belajar Disiplin Membuang Sampah


                                                          ilustrasi sampah

 Ridwan Kamil mati-matian membantah soal sampah di sungai Cikapundung. “Tidak ada bukti bahwa itu sampah dari berasal dari Bandung,” katanya. Kelakuannya sama dengan Ahok. Ketika aparatnya menemukan kulit kabel yang menyumbat got, ia langsung menuduh itu sabotase. 

Usut punya usut, ternyata itu sampah lama yang belum pernah dibersihkan oleh aparat Pemda DKI. Keduanya memberikan pendidikan buruk kepada masyarakat, berupa contoh pemimpin yang suka berdalih, alias ngeles, menolak persoalan. Dalam bahasa Inggris disebut denial. Kehebatan pemimpin tidak sekedar terletak pada kemauannya untuk bekerja keras menyelesaikan persoalan masyarakat, tapi juga pada kemauannya untuk mengakui kekurangannya. 

 Soal sampah, ada begitu banyak hal yang harus kita kerjakan. Persoalannya panjang, dari hulu sampai ke hilir, persis sama seperti panjangnya perjalanan sampah itu dari hulu sungai hingga ke muara. Itupun bukan akhir perjalanan. Ia kemudian akan mengotori lautan. Beberapa kali saya membawa anak-anak main ke daerah hulu sungai. Saya sungguh suka dengan sungai. Suara gemercik arus air, beningnya air, di tengah suasana teduh dan sejuk di bawah rimbunnya pepohonan sungguh mendamaikan hati. Namun, hampir pada setiap kesempatan kedamaian itu terusik oleh sampah. Ya, sampah-sampah, khususnya sampah plastik sudah kita temukan sejak di tengah gunung, di hulu sungai. Bagian hulu dari persoalan sampah kita adalah pendidikan. 

Dengan sedih saya harus katakan bahwa rakyat bangsa ini tidak mendapat pendidikan memadai soal sampah. Bahkan untuk sekedar soal cara membuang sampah saja pun kita tidak dididik. Tapi, bukankah dalam berbagai mata pelajaran kita diajarkan untuk membuang sampah dengan benar? Ya, dan itulah masalah fundamental pada pendidikan kita. Pendidikan kita hanya membuat kita tahu, tapi tidak mengubah laku. Dalam keseharian kita sangat sering melihat orang buang sampah sembarangan. Dalam pandangan saya, dunia kita itu dipenuhi oleh zombie pembuang sampah.

 Sering saya perhatikan wajah orang yang membuah sampah sembarangan itu, dan tidak saya temukan raut rasa bersalah. Sepertinya gerakan tangan mereka waktu membuang sampah itu memang tidak dikendalikan oleh otak. Yang lebih miris adalah pemandangan di sekolah. Pernah suatu hari saya hadir di sekolah anak saya. Hari itu ada olimpiade, pertandingan antar sekolah di bawah yayasan yang mengelola sekolah, menghadirkan sekolah-sekolah di bawah yayasan itu dari seluruh Indonesia. Ada ratusan guru dan siswa yang hadir. Setiap orang makan dan minum, lalu membuang sampah begitu saja di tempat mereka duduk atau berdiri. Dalam sekejap halaman sekolah berubah menjadi lautan sampah. Tempat sampah disediakan di sana sini, tapi jumlahnya tak cukup.

 Selain itu, masalah utamanya terletak pada manusia-manusia yang memang tak terlatih membuang sampah dengan benar. Di lain waktu ada acara lagi, walau skalanya hanya sekedar internal sekolah itu. Kejadian yang sama terulang, orang-orang membuang sampah sembarangan. Saya minta guru yang jadi panitia untuk memberi perhatian soal ini. Iya, pak, jawabnya. Lalu ia mengumumkan,”Anak-anak, mohon agar tidak membuang sampah sembarangan.” Sudah. Seruan itu berlalu begitu saja. Tak tahan lagi saya. Saya seret sebuah tempat sampah besar yang tadinya diletakkan di tempat yang tidak terlihat, saya bawa ke tengah arena acara. Lalu saya mulai memunguti sampah-sampah, memasukkannya ke tempat sampah. Orang-orang di sekitar mulai tersadar lalu tergerak untuk membuang sampah mereka ke tempat sampah itu. Dalam pertemuan dengan guru-guru saya sampaikan kritik secara terbuka kepada kepala sekolah. Ia berjanji akan memperhatikan. Kini kalau ada acara di sekolah, pihak sekolah menyiagakan sejumlah tukang pungut sampah! Luar biasa.

 Persoalan pendidikan kita adalah soal pemahaman terhadap pendidikan itu sendiri, yang direduksi menjadi sekedar pengajaran. Itu terjadi baik di rumah maupun sekolah. Anak-anak kita diajari untuk tahu, bukan untuk terampil. Anak-anak kita tahu bahwa sampah harus dibuang pada tempatnya, tapi tidak terampil dalam membuang sampah. Tangan-tangan mereka tidak dibiasakan untuk membuang sampah dengan benar, maka yang menjadi kebiasaan adalah hal sebaliknya, membuang sampah sembarangan. Anak-anak kita dilatih untuk menjadi para pelafal dan penghafal, bukan pelaku.

Sumber: www.kompas.com
Oleh: Hasanudin Abdurakhman 

Kenapa Anak Harus Belajar Agama Sejak Dini




                                                      Ilustrasi anak sedang belajar agama


Tak dapat disangkal, bahwa semua itu karena minimnya pendidikan agama sedari dini, sejak manusia dalam kandungan. Sejak kecil harusnya seorang anak tidak dibiarkan berkeliaran di luar kontrol orang tuanya. Orang tua terkadang sibuk mencari nafkah, dengan dalih demi kelangsungan hidup keluarga. Mereka lupa, hakekatnya pendidikan akhlak dan kasih sayang kepada anak adalah lebih penting dari sekedar menimbun uang.


Pentingnya pendidikan agama untuk anak sangat perlu dilakukan sejak usia dini agar anak-anak memahami dalam kehidupan yang dijalani ini ada pencipta yang memberikan kehidupan pada seluruh makluk hidup di alam semesta ini. Selain itu kita harus mengajarkan agama kepada anak-anak karena, dengan belajar tentang asal-usul mitos dan sejarah dari berbagai lembaga keagamaan, mereka dapat melihat semua agama sebagai bagian dari fenomena yang sama dan tidak melihat satu sebagai inheren lebih unggul untuk semua orang lain.

Hal itu adalah penting untuk memberikan anak-anak dosis yang sehat dari pendidikan agama sejak dini, mengajarkan mereka berbagai mitologi komparatif dan agama dari pendekatan fenomenologis. Anak-anak secara alami ingin tahu, dan apa yang lebih menarik daripada sistem kepercayaan kuno bahwa begitu banyak dari rekan-rekan dan nenek moyang kita telah mendedikasikan hidup mereka untuk mempercayai sebuah agama. Dengan mengajarkan mereka tentang agama-agama dunia, kita memberikan mereka informasi yang mereka cari dan mengisi kesenjangan dalam pengetahuan mereka dengan cara yang sama kita lakukan ketika kita mengajarkan tentang sejarah atau politik.

Melalui pendidikan di Studi Agama, kita belajar tentang mitos penciptaan dari berbagai budaya dan pengaruh mitos-mitos sebelumnya, tentang persamaan dan inkonsistensi dalam setiap sistem kepercayaan, dan bagaimana setiap agama telah berkembang dari sebuah kultus lokal untuk setara global yang modern.


Fakta bahwa orang mewarisi keyakinan agama mereka dari orang tua atau mentor anak lebih sering terjadi. Ada periode penting di mana seorang anak mulai bertanya tentang kehidupan dan bertanya-tanya tentang asal-usul keberadaan dan, dalam sebuah keluarga religius, pertanyaan-pertanyaan ini biasanya dijawab dalam konteks agama. Proses ini dimulai dari anak tersebut lahir, partisipasi paksa dalam ritual keagamaan dari usia muda, dan mengajar anak-anak yang terlalu muda untuk memahami bahwa agama mereka adalah satu-satunya yang benar, dan kadang-kadang bahwa semua orang lain akan terbakar di neraka.

Setelah anak sudah cukup besar untuk berpikir secara logis tentang kemungkinan kebenaran berbagai agama, biasanya sudah dalam tahap yang sedikit terlambat, karena instruksi agama telah begitu sukses memasuki kepribadian sang anak bahwa anak tidak lagi menerima kemungkinan bahwa mereka bisa salah dalam menafsirkan agama. Setelah semua, ide-ide ini diperkenalkan oleh anggota keluarga yang penuh kasih dan terpercaya, jadi tidak mungkin bagi mereka untuk memahami bahwa agam yang mereka jalankan juga bisa mengalami kesalahan dalam implementasinya.

Tapi ada harapan untuk memperbaiki kondisi tersebut. Dengan mendidik anak-anak tentang banyak agama di dunia, sejarah kuno dan modern, maka sang anak akan mulai berpikir kritis mana makna agama yang sebenarnya, sehingga resiko terjadinya penyimpangan intoleransi dalam kehidupan beragama akan dihindari dan anak bisa menerima perbedaan dengan lapang dada. Pentingnya pendidikan agama untuk anak wajib diimbangi dengan pemikiran positif agar anak sukses dikehidupannya.

Rabu, 23 Maret 2016

Kegiatan Menarik Bersama Buah Hati

  • Percobaan Pasta Gigi



Pada umumnya setelah makan, akan ada lapisan lengket yang disebut bentuk plak pada gigi kita. Kita harus sikat plak tersebut kalau tidak akan berubah gigi dari mutiara yang bagus putih ke kuning masam atau coklat. Plak juga dapat menyebabkan gigi berlubang, yang tentunya tidak menyenangkan sama sekali. 
Kali ini kita akan membuat kegiatan menggunakan telur rebus sebagai gigi. kita bermain berpura-pura dan menunjukkan apa yang terjadi jika plak tidak dibersihkan. keenganan kita membersihkan plak yang menempel di gigi akan membuat kita berpikir dua kali.

 Yang kamu butuhkan: 
  • Satu telur rebus dengan cangkang berwarna putih,
  • Minuman soda gelap, atau  lainnya.
  • Pasta gigi dan sikat gigi 

Yang akan kamu lakukan: 
  • Hati-hati menempatkan telur rebus ke dalam gelas kosong. 
  • Tuangkan sekaleng soda coklat gelap ke dalam gelas, pastikan telur benar-benar tenggelam dalam cairan. 
  • Minta anak kita untuk menebak apa yang mungkin terjadi pada putih telur. Biarkan telur dan soda mengendap selama semalaman. Keesokan harinya, keluarkan telur dari cairan. 
  • Minta anak kita untuk menjelaskan apa yang terjadi pada telur. Bagaimana terlihat sebelum masuk ke gelas? Bagaimana keadaannya sekarang? berikan anak kita sikat gigi dan pasta gigi dan ajak dia untuk menghapus noda dari permukaan telur.

 Jelaskan kepada anak kita. Menganggap telur sebagai gigi dan mendiskusikan apa yang kemungkinan terjadi jika gigi tidak disikat setiap hari.



Membuat Laut dalam botol


Menyaksikan gelombang bergerak bolak-balik, percikan dan jatuh kerang di sepanjang pantai sangatlah mempesona. Goyangan alami air yang menenangkan dan menarik di saat bersamaan. Gelombang pasang surut disebabkan oleh tarikan gravitasi bulan di atas air bumi seperti bumi berubah.

Setiap orang yang telah berjalan di sepanjang pantai akan terpesona dengan keindahannya. Nah kegiatan kali ini akan memberikan inspirasi cara menciptakan laut dalam botol lengkap dengan gelombang, yang pastinya akan membuat anak kita takjub.

Apa yang kau butuhkan:

  • botol kaca atau jar
  • Lem tembak
  • Air
  • Minyak sayur
  • pewarna makanan biru
  • Pasir
  • Kerang laut

Apa yang kamu lakukan:

  • Pastikan jar atau toples anda sudah dicuci dan bersih. Bantu anak  memasukkan beberapa sendok pasir ke dalam toples.
  • Tambahkan air sampai ½ bagian botol terisi penuh. Tambahkan 1 tetes pewarna makanan biru atau lebih sampai mendapatkan warna yang Anda suka.
  • Mintalah anak kita menambahkan beberapa kerang laut.
  • Tambahkan minyak sayur sampai penuh. Tinggalkan ruang kecil untuk udara pada bagian atas.
  • Pada bagian ini alih tugas anak kita, karena kita akan menggunakan lem tembak dan menempatkan lem di sekitar tutup dan kemudian menempatkan tutup pada botol.

Goncangkanlah laut Anda sekarang, sehingga membuat gelombang bolak-balik. Lihat pasir lembut bergerak seperti gelombang berlalu. Ketika botol terguncang. Apa yang terjadi dengan pasir?. Tidak semua pasir bergerak sebagai gelombang bergerak atau hanya sedikit.  Laut  dalam stoples kita terlalu kecil untuk meniru pola pasang surut laut nyata. Akan tetapi hal ini menawarkan kesempatan besar untuk melihat efek energi dari sebuah gerak.

Membuat Buku Mini



Seperti kita ketahui bahwa anak-anak sekolah dasar mendapat pelajaran membaca di sekolah mereka. karena dengan membacalah mereka bisa berbicara tentang sebuah kisah dari buku cerita. Mereka bisa menggambarkan peristiwa dan karakter dari cerita dengan cara yang jelas dan kreatif, Yang merupakan bagian penting dari pengembangan keterampilan pemahaman mereka serta akuisisi dari kosa kata mereka.

Kegiatan berikut mungkin akan memberi inspirasi kepada para orang tua untuk mengajarkan cara membaca yang menyenangkan kepada anak di rumah.

Apa yang kau butuhkan:

  • Sebuah buku bergambar yang anak kita sukai.
  • Sebuah kamus
  • Mesin fotokopi
  • Gunting
  • kertas kosong
  • Lem stik
Apa yang kamu lakukan:

  • Mulailah dengan memilih beberapa halaman pada buku sangat disarankan tidak lebih dari enam halaman. Anda akan membutuhkan halaman pertama, halaman terakhir, dan empat halaman di antara di mana Anda dapat melihat gambar kunci dan teks yang menunjukkan plot maju.
  • Membuat salinan dari masing-masing halaman tersebut, dan kemudian memotong mereka di antara gambar dan teks. Letakkan gambar dalam satu tumpukan, dan teks di tempatyang lain.
  • Sekarang saatnya untuk mengurutkan. Letakkan enam buah kertas kosong di atas meja berturut-turut. Mintalah anak Anda untuk membuat yang benar. Mana yang datang pertama dalam buku? Kedua? Ketiga? Dan seterusnya.
  • Sekarang bagian yang lebih menantang. sudahkah anak memilih teks sesuai dengan ilustrasi yang tepat. teks harus sesuai dengan gambar, dan semuanya harus berkaitan. Saat ia melakukan hal ini, biarkan dia menjelaskan kepada Anda apa yang terjadi di setiap adegan dan mengapa dia berpikir seperti itu. Dan biarkan dia sudah merasa cocok dengan teks dan gambar ilustrasi yang tepat. Tanyakan padanya apakah ada kata-kata yang tidak diketahuinya. Jangan lupa berikan dia kamus untuk mencari kata yang tidak diketahui oleh anak kita.
  • Terakhir berilah anak Anda lem stick. Biarkan dia menempel sendiri gambar dan teks yang sudah dia pilih lalu membuat buku mini sesuai dengan imajinasi anak kita.
kegiatan ini dapat dilulangi lagi dengan beberapa cerita yang berbeda untuk benar-benar memberikan anak kita kesempatan berlatih lebih. Terus beri semangat pada anak kita untuk mencocokkan foto-foto/teks dari buku-buku non fiksi, ataupun fiksi yang ada di perpustakan. Selamat Mencoba Salam Lima Jari. Salam Anak Indonesia Hebat.

Penulis: Heriyanta Perangin-Angin
Sumber: www.education.com


Nilai Bukanlah Segalanya

Menjadi seorang siswa di Indonesia rasanya tidak pernah mudah. Nilai, jadi patokan untuk menentukan kesuksesan. Sepertinya cuma nilai bagus yang membuatmu bisa dibanggakan oleh orang tua dan keluargamu. Pintar main bola nggak membuatmu bisa dapat ranking. Juara kompetisi yoyo tidak menjadikanmu anak kebanggaan. Padahal di luar sana ada berbagai sistem pendidikan lain yang menilaimu bukan cuma dari saja. Hanya sebagai bahan renungan dan evaluasi saja, gak ada salahnya kan kita melihat sistem pendidikan di negara lain. Karena kebanyakan orang bilang kalau rumput tetangga itu lebih hijau. :)



 1. Kalau di Indonesia batita udah masuk pre school, di Finlandia anak dibebaskan dari sekolah sampai umur 7 tahun Masa kecil itu untuk bermain di Indonesia, kebanyakan orangtua pasti akan mulai bingung saat anaknya memasuki usia 3-4 tahun. Pada usia anak yang baru segitu, mereka bahkan sudah pusing untuk memasukkan anaknya ke pre-school yang mana. Yah, namanya juga demi pendidikan anak mereka. Tentu lah mereka ingin memasukkan anaknya ke sekolah terbaik. Sayangnya, dalam usia semuda itu, mental dan pikiran anak-anak cenderung masih ingin bermain. Jadi meski sudah mulai disekolahkan pada usia dini, kemampuan anak yang sebenarnya masih belum akan terlihat. Yang ada malah kemampuan berpikir anak jadi kurang efektif nantinya. Atas dasar itu, Finlandia baru mengenalkan sekolah pada warganya saat mereka mulai masuk usia 7 tahun. Biarkan masa kecil untuk bermain sehingga masa kecil mereka bisa lebih bahagia. Disamping itu, usia 7 tahun dinilai sebagai usia yang tepat untuk mulai belajar. Pola pikir anak sudah mulai bisa dibentuk untuk belajar saat anak memasuki usia tersebut. 



 2. Berhitung dan membaca sama sekali nggak diajarkan di TK Jepang. Anak-anak malah diajari berkebun dan sikat gigi yang benar TK itu bermain. Kamu tentu pernah nonton Crayon Shinchan, kan? Pernah kah liat Shincan disuruh menghitung atau membaca? Tentu tidak. Lantas apa yang dilakukan oleh Shinchan setiap ke sekolah? Hanya bermain dan melakukan aktivitas sehari-hari, seperti sikat gigi dan berkebun. Bagi sistem pendidikan Jepang, masa kanak-kanak adalah saat untuk bermain, bukan belajar memahami angka dan kata. Itulah sebabnya aktivitas TK di Jepang hanyalah bermain, bernyanyi, dan mengenalkan lingkungan. Saat anak memasuki usia SD, baru anak-anak dikenalkan dengan membaca dan menghitung. Berbeda dengan di Indonesia yang punya pola pikir sedini mungkin anak belajar membaca dan menghitung, nantinya anak akan lebih cerdas dari teman sebayanya. Mungkin dalam jarak singkat, hal itu bisa terjadi. Tapi untuk jangka waktu yang lama, anak yang sejak TK belajar menghitung dan anak yang baru belajar hitung-hitungan di SD tidak punya perbedaan yang besar kok.


 3. Kelas di Singapura dibuka dengan sesi bertanya. Guru malah nggak berceramah dan minta murid mencatat Siswa sangat gemar bertanya.
Coba deh ingat-ingat dulu saat kamu jadi murid SD, berapa banyak temanmu yang berani bertanya kepada guru tentang pelajaran di kelas? Paling di dalam kelas, hanya ada satu atau dua orang yang mau dan berani bertanya kepada guru. Ada beberapa penyebab sih. Mungkin karena memang murid tidak pernah diajarkan untuk berani mengemukakan pendapat sehingga murid malas untuk bertanya. Alasan lain adalah karena adanya pendapat bahwa banyak bertanya menunjukkan bahwa kamu tidak mengerti. Jika ditambah dengan adanya guru yang malah mengejek siswa yang bertanya, maka tak ada satu pun siswa yang berani bertanya karena takut dianggap bodoh oleh teman-temannya. Padahal, di Singapura yang notabene negara kecil, para siswanya sangat dianjurkan untuk bertanya. Para siswa didukung untuk menanyakan banyak hal dan memikirkan jawabannya bersama-sama. Dari situ akan terbentuk mental yang siap menghadapi berbagai kemungkinan di masa depan.



 4. Perpustakaan di Singapura buka 24 jam menjelang masa ujian. Mau belajar sampai nginap juga boleh Itu cuman di lantai 8 doang loh. Kalau berbicara tentang sistem pendidikan Singapura, tidak ada yang menyangkal bahwa status pendidikan di sana sangat dijunjung tinggi. Bahkan para orangtua akan merasa sangat kecewa saat anaknya mendapat nilai dibawah temannya. Setiap anak di Singapura cenderung selalu ditekan untuk menjadi yang terbaik di kelas. Namun, meski siswanya ditekan untuk terus belajar menjadi yang terbaik, siswa lulusan Singapura memang cenderung akan sukses di masa depan. Kenapa? Karena meski ditekan, pemerintah Singapura juga mengimbangi tekanan tersebut dengan memberikan sarana belajar yang memadai. Adanya akses ke jurnal dan buku-buku di perpustakan terbukti sangat memantu siswa untuk lebih mendalami ilmunya. Juga dengan banyaknya seminar “gratis” yang diadakan bagi siswa di sana. Ditambah lagi dengan akses ke perpustakaan yang dibuka 24 jam bagi siswa. Dengan segala kemudahan tersebut, wajar lah kalau lulusan Singapura sukses-sukses.



 5. Amerika Serikat membebaskan negara bagian menyelenggarakan Ujian Nasional. Pendidikan tetap terukur tapi nggak disamaratakan Setiap daerah ujiannya berbeda-beda, Jika di Indonesia masih saja ribut soal Ujian Nasional sebagai standar kualitas pendidikan, lain halnya dengan Amerika. Di negara tersebut tidak mengenal adanya ujian nasional. Setiap siswa bebas mengekspresikan dirinya sesuai dengan watak dan kemampuan pribadinya. Pun demikian dengan kurikulum pendidikannya. Masing-masing daerah punya standar kurikulum berbeda. Karena memang setiap daerah punya kelebihan dan kekurangan masing-masing, daerah dianggap yang paling tahu akan standar pendidikan warganya. “Lantas bagaimana dengan standar masuk perguruan tingginya?” Untuk urusan masuk ke perguruan tinggi, sudah ada ujian masuk yang bisa diadakan oleh masing-masing kampus. Meski kamu adalah siswa lulusan SMA dari daerah kecil, kamu tetap punya kesempatan
masuk Harvaard yang sama dengan mereka-mereka yang lulusan sekolah dari kota besar.



6. Nanyang University, Singapura mengganti ospek dengan program Kindness Campaign. Ospek tanpa membentak. Malah berbagi kebaikan Saya juga bingung, “Lari, dek!” “Kamu tuli?! Dari tadi diteriakin ‘lari’ tetep aja lelet!” Sebagai mahasiswa Indonesia, kamu pasti pernah merasakan bagaimana rasanya dibentak-bentak saat Ospek. Meski sekarang perpeloncoan di Ospek sudah dibatasi dan bahkan dihilangkan, tapi program ospek yang ada sekarang kurang bisa mendidik bagi calon mahasiswa. Untuk itu kita sejatinya bisa mencontoh program Kindness Campaign dari Nanyang University. Program ospek yang satu ini sangat dielu-elukan oleh dunia. Yah, bagaimana tidak. Disana, setiap mahasiswa baru harus membagikan kebahagiaan kepada 30 orang selama satu bulan penuh. Caranya beragam. Ada yang dengan memberi tos kepada penumpang yang baru turun dari MRT, bersih-bersih stasiun hingga membersihkan toilet. Daripada ospek yang membentak maba, bukankah ospek dengan cara seperti ini jauh lebih bisa meningkatkan moral calon pemimpin bangsa? Memang sih tidak mungkin untuk serta-merta menerapkan sistem tersebut di Indonesia. 

Kita tidak bisa serta-merta merubah sistem yang sudah ada. Namun secara bertahap perlahan-lahan kita bisa mewujudkan dunia pendidikan yang lebih baik untuk Negara kita yang kita cintai. Kerja sama semua pihak baik pemerintah maupun masyarakat sangat diperlukan untuk membangun sistem pendidikan yang lebih baik untuk generasi penerus kita.

Sumber: www.hipwee.com

Kurangi Kata "JANGAN" kepada Anak

Halo bunda jumpa lagi dengan saya. Kali ini saya ingin membahas mengapa kita harus mengurangi penggunaan kata "Jangan" kepada anak. sering kali kita sangat suka menyebutkan kata ini kepada  buah hati bunda sekalian, seperti: "jangan lari, nanti jatuh". "jangan makan, nanti kamu sakit". Kata-kata seperti ini sering kali kita ucapkan kepada buah hati kita.

Tau ga bunda ternyata penggunaan kata"Jangan" tadi sangat tidak baik untuk perkembangan psikologis buah hati bunda semua. Saya punya pendapat dari seorang pemerhati anak Ayah Edy yang mengatakan: pada buku "Ayah Edy Menjawab hal. 30",
"...gunakan kata-kata preventif, seperti hati-hati, berhenti, diam di tempat, atau stop.  Itu sebabnya kita sebaiknya tidak menggunakan kata "jangan" karena alam bawah sadar manusia tidak merespons dengan cepat kata "jangan"..."

                                                  Ilustrasi orang tua sedang melarang anak


So para bunda sekalian sebaiknya kita mengalihkan kata "Jangan" tadi menggantinya dengan alternatif kata lain seperti "Lebih baik", "Sebaiknya", atau kata postif lainnya. Agar anak terbentuk pola pikirnya menjadi lebih postif dan secara otomatis akan mengurangi penggunaan kata "Jangan" tadi dalam keseharian mereka.

Selain itu ada beberapa hal lainnya mengapa kita sebaiknya mengurangi intensitas penggunaan kata jangan, dari berbagai sumber yang saya baca didapatkan beberapa hal, antara lain: 

 1. Kata jangan itu dapat menghentikan atau memotong aktivitas yang sedang di jalankan oleh anak akan tetapi tidak menghentikan perilakunya atau sifatnya. Maksudnya bagaimana? Contohnya seperti ini, seorang anak sedang mencoret-coret dinding dengan bolpoin, lalu sang ibu berkata “jangan di coret dindingnya”. Nah disaat itu juga sang anak bisa jadi menghentikan tingkahnya, akan tetapi bisa saja terjadi besok atau di lain waktu sang anak akan mengulanginya kembali.

 2. Kata jangan bisa mengurangi pilihan-pilihan yang ada. Untuk sebagian anak kata jangan itu dapat berarti selama-lamanya. Kan sayang yah, kalau ada sesuatu yg sebaiknya tidak ia lakukan saat ini (krn umur atau tinggi badan yg tidak mencukupi) dapat berdampak ke depannya yaitu ia tidak mau melakukannya, :)

 3. Kata jangan dapat memendamkan atau juga malah mematikan kreativitas anak itu sendiri. Karena dengan terlalu seringnya kata jangan digunakan, bisa jadi anak akan merasa kurang PD dan takut untuk melakukan sesuatu atau berkembang (selain itu, pilihan-pilihan mereka untuk mengeksplore diri agar dapat berkembang semakin sedikit). Kasihan kan jika anak kita menjadi anak yang kurang kreatif. 

4.Terkadang ketika kita mengucapkan kata jangan itu tidak diiringi dg pemberian solusi kepada anak itu sendiri. Nah kalau seperti ini bagaimana? Mungkin begini, ada kondisi dimana kata “jangan” di ucapkan akan tetapi diiringi dengan alasan dan solusi untuk memecahakan, jadi anak lebih mengerti dan memahami. Pada dasarnya bunda, ayah dan para pembaca sekalian, ada beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk menggantikan kata jangan tersebut. Contohnya, “jangan lari disini”, bisa kita ganti dengan “adik kita lari di luar atau tempat lain yuk”. Atau “jangan suka mukul teman” kita ganti “adik, sayang teman yah”. Ataupun penggunaan padanan kata yang lain. Kata “jangan” memang terkadang lebih efektif dalam memberitahukan dan menetapkan sebuah peraturan, tapi terkadang memberikan dampak ke depannya. Jika kata “jangan” digunakan untuk mendisiplinkan anak, maka dari bahan yg dita baca” Disiplin itu lebih kearah mendidik dan mengajar bukan kepada memarahi”.

 Yuk Ayah dan Bunda sekalian segara diubah kebiasaan menyebutkan kata jangannya kepada buah hatinya ya. Agar kelak buah hati Ayah dna Bunda tumbuh menjadi anak yang memiliki budi yang luhur. Sekian dari saya kali ini sampai jumpa kembali di pembahasan berikutnya. Salam Lima Jari. Salam Anak Indonesia Hebat.
                                                               Ilustrasi keluarga bahagia

Membacalah Maka Kamu Akan Menulis



                                                        Ilustrasi anak sedang membaca

Sastrawan besar Pramoedya Ananta Toer secara khusus memberikan komentar tentang tokoh yang sering disebut oleh pemerintah kolonial sebagai "Indonesia's Grand Old Man, Agus Salim!". Bahkan, orang Belanda memujinya dengan mengatakan "Salim op zijn best"! 

Salim adalah prototip pejuang Indonesia yang mengenyam pendidikan Belanda dan juga seorang otodidak. Ia adalah diplomat yang memiliki kemampuan berdebat cerdas, menguasai bahasa asing dengan baik, -- 7 bahasa asing dikuasainya antara lain Inggris, Belanda, Jerman, Perancis, Arab, Turki dan Jepang, -- dan menulis dengan militan. Laki-laki kurus kecil asal Batusangkar, Sumatera Barat, yang selalu menghisap rokok kretek itu tidak perlu mengemis untuk sebuah paspor hitam untuk "mengaum" di meja-meja diplomasi dunia. Salim diakui kepiawaian dalam berdiplomasi. Ia punya skil komunikasi tutur dan tulis sangat mumpuni yang menjadi modal utamanya sebagai diplomat. 

 Sosok Salim kelak akan menjadi pemantik "spesies" yang lebih hebat seperti Soekarno, Tan Malaka, Muhammad Hatta, M Natsir, Hamka dan lainnya. Kesemuanya bisa dialektika, membaca, dan menulis dengan sempurna. Buku dan pena Budaya membaca dan menulis seyogianya harus ditularkan dan diinspirasi dari seorang pemimpin. Bung Karno, yang sangat "gila" membaca, mewariskan buku sekaliber Di Bawah Bendera Revolusi kepada bangsa ini. Hatta dan 11 peti berisi buku yang dibawanya pulang ke tanah air setelah tafakur intelektualnya selama kurang lebih 11 tahun di Negeri Kincir Angin pun begitu. OA membuktikan bahwa buku adalah amunisi bagi perjuangan, sementara pena adalah meriamnya untuk memenangkan perjuangan itu. 

Tentu, di era sekarang, kita pun masih membutuhkan buku dan pena sebagai amunisi dan meriam dalam era regionalisasi dan globalisasi ini. Bahkan lebih! Faktanya, dan ini mengkhawatirkan, bahwa budaya membaca di Indonesia masih kurang. Itu kalau tak mau dikatakan memprihatinkan. Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO 2012) mencatat indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,001. Itu artinya, pada setiap 1.000 orang hanya ada satu orang yang punya minat membaca. Masyarakat di Indonesia rata-rata membaca nol sampai satu buku per tahun. Tidak usah dibandingkan dengan Jepang dan Amerika yang rata-rata membaca 10-20 buku pertahun. Jika dibandingkan dengan negara-negara di kawasan ASEAN, yang membaca 2-3 buku per tahun, kita pun masih sangat ketinggalan. 

Melihat itu, kita tentu membutuhkan generasi muda yang ada "garam" dalam setiap ucapannya, dan militan dalam tulisannya. Seperti tulisan-tulisan Agus Salim, Soekarno atau Hatta. Sejatinya, Indonesia membutuhkan generasi muda yang menjadikan buku sebagai jendela pengetahuan untuk mendapatkan cakrawala ilmu dan kearifan. Generasi yang memiliki karakter ulama (agamis), intelektual, diplomat, satrawan, ahli debat ulung, dan guru yang jenius. Juga, seperti Agus Salim atau Hamka. 

Masyarakat di Indonesia rata-rata membaca nol sampai satu buku per tahun. Tidak usah dibandingkan dengan Jepang dan Amerika yang rata-rata membaca 10-20 buku pertahun. Jika dibandingkan dengan negara-negara di kawasan ASEAN, yang membaca 2-3 buku per tahun, kita pun masih sangat ketinggalan Iqra Dalam Islam, membaca merupakan perintah pertama yang diperintahkan Allah SWT. Hal itu tersebut dalam Al Qur'an surat Al- Alaq ayat 1-5. Iqra! Bacalah... "Membaca" adalah memahami hakikat dari segala yang tersirat, dan bukan hanya yang tersurat. Membaca bukan hanya dengan indra penglihatan. Seperti dijelaskan oleh M. Quraish Shihab dalam bukunya, Membumikan Al-Quran, kata Iqra dalam ayat tersebut, berarti "Bacalah"!. Itu perintah membaca, yang berasal dari kata qara’a yang mengandung arti menghimpun, menelaah, membaca, meneliti dan mendalami (tafakur). 

Tidakkah itu serupa dengan metodologi riset dalam istilah modern masa kini? Mari kita bangun kembali budaya baca dan tulis yang sebenarnya sudah kita warisi. Kita bisa memulainya dari lingkungan terkecil dan terdekat. Semua itu tentu untuk membangun (kembali) peradaban kita! "Ilmu adalah buruan, dan tulisan adalah ikatannya. Ikatlah buruanmu dengan ikatan yang kuat, yakni menuliskannya." Itulah yang dikatakan Sayyidina Ali, sahabat Nabi Muhammad SAW.
Sumber: Kompas.com

Selasa, 22 Maret 2016

Kegiatan Bermanfaat Tanpa Fasilitas Teknologi

6 Kegiatan Menghibur dan Bermanfaat yang Bisa Dilakukan Bersama Anak tanpa Fasilitas Teknologi. Pengaruh teknologi sekarang ini sudah begitu melekat dengan anak-anak. TV, DVD, permainan komputer, internet, media sosial, smartphone, dan sebagainya. Anak-anak biasanya asik sendiri sampai lupa waktu saat menggunakan gadget tersebut. Namun tidak hanya anak-anak, orangtua pun dikhawatirkan juga asik sendiri dengan gadget yang dimilikiny, sehingga waktu bersama keluarga kurang maksimal diciptakan. Berikut beberapa hiburan yang masih bisa diberikan dan dilakukan bersama-sama tanpa memanfaatkan alat-alat teknologi tersebut, tetap tetap menghibur dan bermanfaat. Yuk disimak ya bunda. 

 1. Pesawat Kertas
 Permainan klasik ini tetap menjadi favorit bagi anak-anak. Ajarkan lah bagaimana membuat pesawat dari kertas, bisa menggunakan kertas warna-warni agar terlhiat lebih menarik, dan kemudian ajak untuk berlomba menerbangkannya. Atau buat pesawat kertas sebanyak mungkin sebagai hiasan di kamar mereka.

                                                     Ilustrasi bermain pesawat kertas

 2. Membuat cerita 
 Kegiatan ini bisa mengasah imajinasi anak sehingga menimbulkan motivasi mereka terhadap sesuatu keinginan atau cita-cita. Misalnya dengan membuat cerita bersama mengenai liburan sekolah. Atau misalnya mengenai cita-cita mereka kalau besar nanti. Anak-anak akan mengingat terus cerita yang dibuatnya sehingga bisa menjadi motivasi mereka.

                                                                    Ilustrasi menulis

 3. Tebak gambar. 
 Sediakan kertas gambar kosong, lalu gambar lah hal yang mudah untuk anak-anak tebak. Misalnya gambar hewan, mainan, tanaman, dsb. Dan berikan kesempatan kepada anak Anda untuk melakukan hal sebaliknya.


                                                              Ilustrasi bermain tebakan

 4. Membuat Peta 
 Untuk melatih ingatan dan kecerdasan otak anak, mulai lah untuk membuat peta bersama. Tidak perlu peta yang sulit, buatlah peta tempat-tempat di sekitar rumah dan beberapa akses jalan menuju sekolah atau tempat lainnya yang mereka ketahui.

                                                              Ilustrasi membuat peta

 5. Membuat Kreativitas 
 Asahlah kreativitas anak-anak dengan membuat barang-barng yang mudah dan bermanfaat. Misalnya saja membuat scrapbook, aksesoris dari pita, menghias bola, menggambar baju atau tie-dye, membuat rekaman musik bersama, mengecat kamar anak, dan lain sebagainya.

                                                         ilustrasi anak sedang berkreatifitas

 6. Bermain lego atau balok kayu
Bermain menggunakan mainan lego dan balok kayu sangatlah menyenangkan bagi anak. Banyak hal yang bisa anak lakukan dengan lego dan balok kayu seperti: merancang gedung, binatang, robot, dll. Bermain menggunakan lego ataupun balok kayu juga mengasah kemampuan motorik, logika berpikir, serta sosial emosi dari anak kita.

                                                     ilustrasi merancang menggunakan lego

 7. Eksperimen Sains  
Menanam Tumbuhan Ini adalah cara yang tepat untuk menganalkan anak terhadap lingkungan. Menumbuhkan kecintaan anak terhadap alam dan mengajarkan bagaiamana mereka menghargai alam dan lingkungan. Selain itu juga secara ilmiah menambah pengetahuan anak mengenai proses pertumbuhan tanaman buah, sayur, maupun yang lainnya. Mulai lah dari yang termudah, misalnya menanam biji bunga matahari, biji cabai, umbi-umbian, bumbu masak, atau pohon buah mangga. Terus lah bertahap ajarkan jenis-jenis pupuk dan beritahu perbedaan kegunaan masing-masing pupuk, bagaiman cara memberinya, dan ingatkan terus untuk menyiram dan memantau perkembangan tanamanya yang ditanam.

                                                       ilustrasi anak sedang menanam

 8. Berolahraga 
 Untuk menjaga kesehatan keluarga, jadwalkan minimal seminggu sekali untuk melakukan kegiatan di luar rumah. Ajak lah anak ke taman kota atau tempat-tempat umum lainnya untuk lari pagi ataupun bersepeda. Kegiatan ini tidak hanya menghibur tetap juga menyehatkan. Masih banyak lagi kegiatan dan kreativitas yang bisa dilakukan tanpa menggunakan fasilitas teknologi yang ada. Inti sari dari semuanya itu adalah meningkatkan kesadaran bagi seluruh anggota keluarga mengenai kebersamaan dan kekeluargaan.
                                                         ilustrasi bermain bola dengan keluarga


Senin, 21 Maret 2016

Belajar Menggunakan Lego

Haii  para bunda semuanya... semoga semua dalam keadaan sehat ya bunda. kali ini saya ingin berbagi ilmu belajar menggunakan media lego. Lego?? mungkin dalam benak para bunda sekalian pasti mainan. Terus dimana letak pembelajarannya ya.. Nah ini nih bunda saya bagikan informasi mengenai lego sebagai alat belajar para buah hati bunda.


                                                    Ilustrasi membuat dino menggunakan bricks lego

Pada umumnya anak sangat suka bermain apalagi anak yang usianya masih memasuki usia pra sekolah 2-5 tahun. Mereka akan selalu mencari cara untuk bisa bermain. Agar mereka memperoleh ilmu ketika sedang bermain hendaknya bunda sekalian memberikan mainan yang tepat guna untuk buah hati bunda. LEGO, adalah mainan yang sangat saya dan anak-anak seluruh dunia sukai ketika kami sedang bermain. ternyata ketika sedang bermain lego ada beberapa perkembangan yang terlatih tanpa buah hati bunda sadari seperti : Kemampuan bereksplorasi, Kemampuan berkreasi, Kemampuan motorik,  kemampuan sosial, Kemampuan mengenal dunia, Kemampuan metematika, Kemampuan sains, dan Kemampuan bahasa secara utuh.

                                              Ilustrasi anak sedang bermain

Waaah ternyata banyak manfaatnya ya bunda. Saya juga punya pendapat dari ahlinya nih tentang media belajar menggunakan lego ini bunda. Menurut Fred Ebbeck (Masitoh, 2005 : 7) "merupakan masa pertumbuhan yang paling hebat dan sekaligus paling sibuk. Pada masa ini anak sudah memiliki keterampilan dan kemampuan walaupun belum sempurna". Usia Taman Kanak-Kanak seringkali juga disebut sebagai "the golden age" atau masa emas yang mengandung arti bahwa masa ini merupakan fase yang sangat fundamental bagi perkembangan dimana kepribadian dasar individu mulai terbentuk (Masitoh, 2005 : 7).

                                                Ilustrasi membuat dino menggunakan lego

Bermain menggunakan mainan lego ini mampu membuat anak kita lebih kreatif loh bunda. Kegiatan yang dilakukan pun beragam, bunda bisa membuat tema-tema dari lego yang akan dirancang oleh buah hati bunda sekalian. Bunda bisa mengajak buah hati  bunda untuk membuat gedung, binatang, tanaman, robot, dan banyak lagi bentuk yang bisa bunda explore bersama sang buah hati

Lego mampu mengasah kemampuan logika berpikir dari buah hati bunda. Dimana ketika buah hati bunda sedang merancang sesuatu dengan menggunakan lego otomatis buah hati bunda akan berpikir agar rancangannya sempurna, membongkar kembali jika merasa ada yang perlu diperbaiki. Buah hati bunda juga dilatih kesabarannya ketika sedang merancang, dimana buah hati bunda akan sangat berhati-hati dengan rancangan yang sedang ia kerjakan. Bahkan saat ini bermain lego juga dapat dikaitkan dengan pelajaran matematika dimana buah hati bunda yang sudah duduk di bangku sekolah dasar mampu diajarkan materi pecahan dengan menggunakan media lego ini.

                                                   Ilustrasi soal matematika menggunakan lego

Kata kunci dari pembahasan saya kali  ini adalah bermain sambil belajar. Bagaimana kita sebagai orang tua memberikan wadah sebeas-bebas dan seluas-luasnya bagi buah hati kita semua untuk mampu mengeksplore setiap media mainan yang mereka miliki seperti lego ini. 

Yang lebih penting lagi ialah kemampuan bersosialisasi dari buah hati para bunda sekalian. Orang tua mana yang ingin anaknya menjadi addicted dengan gadget dan mendapat label anak autis karena tidak mampu bersosialisasi dengan anak lain. Bermain lego juga mampu meningkatan kemampuan sosialisasi dari buah hati bunda sekalian. Anak bunda akan mampu bermain dengan 3 orang lebih dalam kegiatan merancang bersama menggunakan lego. Sehingga buah hati bunda akan mampu mengontrol emosi mereka serta menumbuhkan rasa saling perduli dan mau berbagi dengan semua sahabat mereka

                                            Ilustrasi anak sedang bekerjasama merancang


Gimana nih bunda sudah cukup belum informasinya. Semoga apa yang saya bagikan kali ini bermanfaat bagi para bunda sekalian ya.  Saya harap bunda mampu memanfaatkan media bermain anak menjadi pembelajaran yang menyenangkan buat buah hati bunda sekalian. Untuk para bunda yang memiliki lego di rumah sudah bisa diterapkan belajar sambil bermain dengan buah hati bunda di rumah. Karena pada dasarnya belajar tidak hanya melulu di sekolah loh bunda, belajar juga dapat dilakukan di rumah bersama dengan keluarga tercinta. Samapi jumpa kembali di pembahasan berikutnya. Salam Lima Jari. Salam Anak Indonesia Hebat.

Orang Tua dan Sekolah

Hai bunda... kali ini saya ingin membahas Hubungan antara orangtua dan pihak sekolah. Anak kita sangat perlu dijaga. Pihak sekolah dapat memberikan informasi mengenai anak di sekolah, termasuk perkembangan akademik, karakter dan kesulitan apa yang tengah mereka alami.

Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan, sebagai berikut :

 Menjaga keterlibatan Penelitian menunjukkan bahwa hubungan baik antara orangtua dan pihak sekolah si kecil memberikan keuntungan untuk mendidik si kecil dengan baik. Semakin banyak orangtua tahu tentang apa saja yang dipelajari si kecil di sekolah, semakin membuat orangtua dapat memberikan dorongan dan motivasi pada si kecil.

                                                       Ilustrasi kegiatan Parenting di Sekolah

Melibatkan orangtua dalam pendidikan anak
 Memberikan informasi kepada orangtua tentang bagaimana dan apa yang si kecil lakukan dan pelajari di sekolah - yaitu kurikulum, metode pengajaran, dan perubahan sistem pendidikan. Selain itu, menginformasikan mengenai kemajuan kemampuan karakter dan akademik yang telah dicapai si kecil di sekolah. Orang tua juga dianjurkan untuk ikut terlibat dalam kegiatan sekolah bersama guru dan anak-anak, dengan harapan terbentuknya kerjasama yang baik antara rumah dan sekolah.

                                                  Ilustrasi kegiatan sekolah bersama orang tua


Cara untuk tetap menjaga hubungan
Setiap sekolah memberikan laporan tentang kemajuan muridnya setidaknya sekali dalam setahun kepada para orangtua. Orangtua juga akan diundang untuk menghadiri setidaknya satu pertemuan orang tua dan guru selama setahun atau pengambilan rapot kenaikan kelas. Ketidakhadiran Orangtua harus menghubungi pihak sekolah jika si kecil tidak masuk sekolah karena sakit. Jika si kecil tidak hadir di kelas dan orangtua tidak menjelaskan mengapa alasannya ia tidak bisa masuk sekolah, sekolah dapat menghubungi orangtua untuk memastikan bahwa si kecil tidak membolos.


                                                  Ilustrasi kerjasama orang tua dan murid

Pertemuan orangtua dan guru di sekolah

Pada pertemuan orangtua dan guru, orangtua dapat bertemu guru kelas si kecil untuk mengetahui bagaimana perkembangan si kecil di sekolah dan kesulitan yang dialami si kecil. Pada pertemuan guru dan orangtua di sekolah, biasanya orangtua datang sendiri tanpa si kecil. Pertemuan orangtua dan guru di sekolah menengah Untuk pertemuan orang tua dan guru di sekolah menengah biasanya orang tua akan datang bersama siswa. Di sekolah menengah, siswa memiliki guru yang berbeda untuk setiap mata pelajaran sehingga orangtua perlu untuk berkonsultasi dengan guru permata pelajaran. Jika ada masalah yang tidak ingin dibahas di depan anak, hubungi sekolah dan membuat perjanjian terpisah

                                         lustrasi pertemuan orang tua dengan pihak sekolah


Nah ternyata sangat penting ya bunda buat kita sebagai orang tua untuk terus memantau dan menjaga hubungan yang baik dengan sekolah, tempat bunda mempercayakan agar anak bunda didik dan ditempah kemampuan akademik dan karakternya. Semoga informasinya bermanfaat dan bunda tidak salah pilih sekolah untuk sang buah hati ya. Salam lima jari. Salam Anak Indonesia Hebat.

Jumat, 18 Maret 2016

Menggali Potensi Anak Sejak Dini



Buat para ibu semua saya mau berbagi resep bagaimana kita bisa menggali potensi dari anak kita. Umumnya, sekolah-sekolah mengikuti kurikulum yang diberikan pemerintah. Berbeda halnya dengan Sekolah lain. Sekolah tempat saya mengajar tidak mengikuti mentah-mentah kurikulum pada umumnya. 

 Di sekolah, kami mengolah metode pembelajaran menjadi menyenangkan buat anak-anak. Dengan harapan kami dapat mengembangkan potensi yang ada pada masing-masing anak didik kami. Sekolah kami berusaha menanamkan kepada siswa-siswanya agar senang menggambar, membaca, dan mengarang. Maka, perbedaan sekolah kami dan sekolah-sekolah yang lainnya ialah, siswa-siswa Kami jauh lebih pintar untuk bisa mengarang dan berimajinasi sesuai dengan bakat dan minat yang mereka miliki.


                                                      Ilustrasi karya anak TK Di sekolah.


 Kami menggunakan lego sebagai alat peraga belajar sambil bermain. Bermain mengggunakan lego mampu mengasah kemampuan otak kanan dan otak kiri dan anak didik. Lego mampu meningkatkan kemampuan berhitung, berbahasa, logika berpikir, motorik, dan sosial emosi dari masing-masing anak didik. Banyak hal yang bisa kita bentuk atau rancang menggunakan media lego. 


                                                                           Lego Dino


 Pada dasarnya, sekolah berusaha menanamkan kepada siswa-siswanya agar senang menggambar, membaca, dan mengarang. Siswa-siswa kami diajak untuk bisa mengarang dan berimajinasi sesuai dengan bakat dan minat yang mereka miliki. Kalau mengarangkan datangnya dari anak, jadi mereka harus kenal dulu objek yang akan mereka karang, dan biasanya kita awali dengan menggambar. Itu yang kami ajarkan kepada anak-anak. 
                                                                            ilustrasi

Membaca atau baca juga merupakan kegiatan yang menyenangkan dan sangat baik untuk perkembangan karakter anak. Baca itu bisa baca alam. Jadi membaca itu bisa langsung mengamati secara langsung, karena dengan mengamati langsung mereka akan jauh lebih paham ketimbang baca dari buku cetak. 


 Masih banyak lagi potensi yang bisa kita gali dari anak kita, melalui kegiatan yang mampu mengembangkan potensi akademik dan kemampuan karakter masing-masing anak. Sebagai orang tua kita tinggal mempersiapkan yang terbaik untuk anak kita agar mereka memiliki masa depan yang lebih cerah. Terima kasih udah menyempatkan diri untuk membaca blog saya semoga para ibu mendapat ilmu dan inspirasi baru setelah membaca blog saya ini. Sampai jumpa kembali di lain waktu. Tuhan memberkati.

Selasa, 15 Maret 2016

Matematika Tak Sekadar Urusan Berhitung...

Ilustrasi.
Dilihat sekilas, Ruslan Yusuf tampak biasa saja. Ia hanya memakai kaus dan celana santai. Namun, di balik penampilannya yang bersahaja, Ulcok, panggilan akrabnya, menyimpan sebuah kekuatan istimewa.

Dia bukan tokoh superhero sekelas Superman atau Batman. Ulcok hanya seorang "kalkulator berjalan". Ia mampu mengerjakan soal berhitung apa pun tanpa bantuan alat dan berhasil menjawab dengan tepat.

Sehari-hari Ulcok mampir dari satu kantor ke warung kopi untuk menawarkan jasa berhitung. Ia melakukan itu tanpa menyerah demi perekonomian keluarga.

Boleh jadi, untuk Ulcok, matematika bukanlah pelajaran mengerikan. Karena terbukti, hal itu justru mampu membantu dan menopang kehidupannya.

Dekat dalam kehidupan

Pengalaman Ulcok mungkin sedikit berbeda dari sebagian besar siswa di sekolah pada umumnya. Dilansir oleh Kompas.com, sebuah studi di Amerika Serikat menyebutkan bahwa 17-30 persen anak usia sekolah dasar dan menengah negara punya ketakutan tersendiri terhadap matematika.

Beberapa siswa juga merasa cemas menghadapi pelajaran ini di sekolah. Ada citra tersendiri di mana matematika seolah menjadi studi yang paling disegani. Padahal, ilmu ini sebenarnya dekat dan berguna dalam kehidupan manusia.

Tokoh sains dan matematika Indonesia, Yohannes Surya, pernah mengatakan bahwa matematika berperan membantu perkembangan logika pada anak serta ketangkasan menyelesaikan masalah.

Contoh lain terlihat dari penemuan Ruddy Kurnia, salah satu mahasiswa S-3 di University of Twente, Belanda. Ia berhasil menemukan perangkat lunak pengukur perilaku ombak yang disebut Hawassi.
Alat tersebut mengadopsi model perhitungan matematis dari energi kinetik ombak untuk mengetahui perilakunya pada kedalaman laut tertentu. Berkat Hawassi, pembuatan pelabuhan misalnya, tak lagi memerlukan eksperimen lama karena beberapa faktor, seperti putaran ombak atau kedalaman air, dapat diketahui dalam hitungan menit.

Jangan kaku

Sebenarnya, matematika dan ilmu sains lainnya akan lebih mudah dipelajari jika Anda tidak sungkan mengaplikasikannya pada kehidupan sehari-hari. Kuncinya hanyalah kemauan untuk mempelajari.

Ambil contoh pembelajaran yang diterapkan di University of Twente, Belanda. Kampus ini memberikan kesempatan bagi pelajar untuk melintas batas akademik dengan memadukan ilmu teknologi dan sosial.

University of Twente menjadikan kampusnya sebagai tempat eksplorasi. Siswa bebas berdiskusi secara informal dan terbuka mengenai bidang studi bersama para pengajar. Lingkungan universitas yang memiliki pemandangan taman dan museum arsitektur terbuka juga ditargetkan mampu membangun suasana belajar yang kondusif.

Keterbatasan bahasa pun tak jadi masalah besar di universitas ini. Meski letaknya di Belanda, ada 12 program studi yang diajarkan dalam bahasa Inggris tahun ini. Pelajar dapat memilih program studi di berbagai bidang, antara lain teknik dan ilmu pengetahuan alam hingga ilmu perilaku dan manajemen.

Adapun bagi mahasiswa Indonesia, University of Twente menawarkan beasiswa melalui program University of Twente Scholarship (UTS) dan Orange Tulip Scholarship (OTS). Pembiayaan terbuka untuk program sarjana, master, doktor, dan bahkan short course.

Informasi lebih lanjut mengenai beasiswa dan univesitas dapat Anda temukan di https://www.utwente.nl/en/education/scholarship-finder. Lebih jauh mengenai pendidikan tinggi di Belanda Anda dapatkan melalui situs Nuffic Neso Indonesia di